Jumat, 25 Desember 2009

Rabu, 25 November 2009

Marya sang Maestro

MARYA, kisah nyata yang seorang perempuan Polandia yang mendedikasikan seluruh kemampuannya demi perkembangan ilmu pengetahuan. Marya pemenang dua nobel sekaligus dalam bidang Matematika dan Fisika, begitulah sejarah mengingatnya.

Kisah nyata ini tidak hanya menyugukan sejarah keemasan sang tokoh utama, namun juga dibumbui bait-bait kata yang mencerminkan sebuah novel yang apik untuk dinikmati semua kalangan baik kalangan remaja, mahasiswa, bahkan para ibu-ibu yang mendambakan buah hatinya kelak akan menjadi seperti tokoh Marya Sklodovska pemegang dua penghargaan, mungkin lebih.

Buku garapan Hendrasmara ini, merangkum perjalanan sorang Hawa dari Polandia yang mencengangkan sejarah ilmu pengetahuan dunia, sebab dialah satu-satunya perempuan yang pemagang rekor dua nobel sekaligus. Bahkan satu-satunya perempuan pertama pemimpin Laboratorium Penelitian ‘Radium’ serta beliau wanita pertama menjadi guru besar di Universitas Sorbonne, Perancis.

Hebat, bukan? Memang, sepintas kehidupan wanita ini penuh dengan kebahagiaan. Tapi tidak bagi Marya. Sebelum ia menjadi orang yang sukses, jalan terjal penuh onak dan duri menjadi jalan utama menuju kesuksesannnya. Tak berlebihan kiranya Raja Dangdut Rhoma Irama dalam syairnya mendendangkan “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Marya Sklodovska, di masa kecilnya sudah merasakan kepahitan itu sebab negaranya Polandia dijajah oleh Rusia. Belum kering luka yang di derita, kakaknnya Zosia meninggalkan Marya untuk selamanya. Ibu kesayangannya pun menyusul ke alam baka.

Di tengah penderitaan itu, Marya harus menanggung semua beban keluarganya. Hingga biaya kuliah Bronya, kakak pertamanya yang kuliah di kedokteran Sorbonne ia tanggung. Walaupun sebenarnya ia juga ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, tapi ia tidak memedulikan masa depannya sendiri, ia lebih mementingkan keluarganya daripada kepentingan ia sendiri.

Tuhan akan selalu adil pada ummatnya, itu keyakinan Marya. Keyakinan itu bak cinta ulampun tiba. Keinginan Marya untuk melanjutkan kuliah ke Perancis akhirnya kesampaian juga atas rekomendasi dari kakanya Sonya yang lebih dulu berada di Perancis.

Inilah titik awal kesuksesan Marya di bidang keilmuan. Kemampuan yang sedari kecil mumpuni, menjadi senjata dalam menempuh kuliah di Perancis, serta semangatnya yang membara. Marya lulus dengan predikat cumlaude di bidang fisika dan matematika.
Kesuksesan itu membawanya kepada Pierre, yang nantinya akan menjadi suami, sahabat, sekaligus guru dalam perjalanan karir keilmuan Marya. Dua sejoli ini merajut tali percintaan dengan romantis, hingga pasangan burung pun akan iri melihat kemesraan mereka baerdua.

Bertahun-tahun mereka lalui dengan manis, kedua orang ilmuan inilah pertama kali yang menemukan radium. Dengan penemuan yang fenomenal ini, mereka mendapat banyak penghargaan baik dari Perancis, Amerika Serikat, Inggris dll.


Kebahagian ini tidak sampai usia menggoroti tubuh mereka, sebab kekasih, sahabat, guru tercinta meninggalkan Marya saat kejayaan telah menjadi milik mereka. Ya, Pierre telah meninggalkan Marya untuk selama-lamanya.

Dengan kepergian suami tercinta hidup Marya bagai tak bergairah. Penuh dengan kebisuan, kebisuan sejati. Namun Marya sudah terbiasa dengan penderitaan, ia akhirnya bangkit dari keterpurukannya, menjadi Marya yang teguh kembali.

Sebagai seorang peneliti, Marya juga merupakan tentara perang. Pada 1914 Perang Dunia I berkecamuk, dan Marya tidak bisa tinggal diam. Ia juga turun ke lapangan walaupun hanya sebagai perawat. Itulah Marya, meskipun sebagai peneliti mashur, guru besar Sorbonne ia tidak pernah mengecap kehidupan glamor, laiknya wanita-wanita kaya kebanyakan.